Contoh Makalah Menganalisis Drama Melalui Pendekatan Objektif dan Mimesis


MAKALAH

TELAAH DRAMA INDONESIA
Menganalisis Drama Melalui Pendekatan Objektif dan Mimesis
DOSEN PENGAMPU : MUHIBBUL FAHMI, S.Pd
         Di Susun
            Oleh:

Nama          : Sigit Purnomo
Kls               : C
Prodi           : Bahasa dan Sastra Indonesia



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP YPM BANGKO)
TH. 2011/2012

KATA PENGANTAR

       Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nyalah penulis dapat  menyelesaikan tugas makalah Telaah Drama ini dengan baik.
       Adapun tujuan pembuatan makalah ini, guna untuk menyelesaikan tugas Individu dari mata kuliah Telaah Drama, yang di ampu oleh Dosen yang bersangkutan; Muhibbul Fahmi S.Pd
      Apa bila di temukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini penulis mohon maaf dan siap menerima masukan dari berbagai pihak, masukan tersebut sangat kami hargai dalam upaya menyempurnakan makalah ini, terima kasih.



                                                                                                Penulis …

                                                                                                Bangko

BAB  I
PENDAHULUAN
1.1            LATAR BELAKANG
Sebagai sebuah karya yang menyangkut persoalan manusia dalam kehidupanya, drama menarik untuk di pahami. Pemahaman terhadap drama dapat di lakukan melalui analisis terhadap unsur-unsur yang mendukung karya tersebut dengan menggunakan berbagai pendekatan. Agar pemahaman diperoleh dengan akurat, karena di pandang sebagai sebuah karya yang otonom sehingga penganalisisan harus menghindari unsur subjektif dan melakukanya melalui prosedur karya yang cermat dan bertahap serta sistematis dan objektif dengan landasan berpikir logis. Memahami drama adalah suatu kerja ilmiah yang hasilnya dapat di pertanggung jawabkan secara akurat. Untuk itu pemahaman mutlak kepada usaha penyelidikan terhadap suatu peristiwa atau karangan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

1.2               RUMUSAN MASALAH

1.       Bagaimana Cara Menganalisis Drama Melalui Prinsip Umum Pendekatan Objektif ?
2.       Bagaimana Cara Menganalisis Drama Melalui Prinsip Terapan Pendekatan Objektif ?
3.       Bagaimana Cara Menganalisis Drama Melalui Prinsip Umum Pendekatan Mimesif ?
4.       Bagaimana Cara Menganalisis Drama Melalui Prinsip Terapan Pendekatan Mimesif ?
5.       Apa Pandangan Aristoteles Dengan Plato Mengenai Drama Melalui Pendekatan Mimesis?

1.3               TUJUAN PENULISAN

1.      Menjelaskan Tentang Penganalisisan Drama Melalui Prinsip Umum Pendekatan Objektif
2.      Menjelaskan Tentang Penganalisisan Drama Melalui Prinsip Terapan Pendekatan Objektif
3.      Menjelaskan Tentang Penganalisisan Drama Melalui Prinsip Umum Pendekatan Mimesif
4.      Menjelaskan Tentang Penganalisisan Drama Melalui Prinsip Terapan Pendekatan Mimesif
5.      Menjelaskan pandangan Plato dan Aristoteles tentang telaah drama pendekatan mimesis

BAB  II

PEMBAHASAN

2.1     Prinsip Umum Pendekatan Objektif
            Prinsip umum yang menjadi dasar perkembangan strukturalisme meliputi :
1.       Penganalisisan hanya bertumpu pada teks drama semata dan lepas dari unsure- unsure luar yang mempunyai andil penciptaan sebelumnya. Maksutnya adalah Penganalisis dalam menganalisis Drama tidak mengaitkan dengan keadaan yang sebenarnya, dan hanya bertumpu pada teks Drama tersebut.
2.       Karya fiksi(khayalan) di bangun oleh beberapa unsur; seperti gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, dan latar.
3.       Penganalisisan drama sebagai genre(jenis) sastra adalah dengan membongkar unsur ke sub unsur yang sekecil kecilnya, untuk di susun kembali dengan logika rasional. Maksutnya adalah dalam menganalisis drama sebagai jenis sastra caranya adalah dengan mengelompokkan bagian-bagian terkecil unsure drama, kemudian di tata kembali secara akal sehat atau masuk di akal.
4.       Keseluruhan dan kebutuhan drama di preteli menjadi unsure - unsure tetapi tidak di biarkan terpisah dan lepas. Artinya adalah bagian-bagian dari drama antara yang satu dengan yang lain masih ada hubungan dan tidak bisa di pisahkan.
5.       Antara unsure utama makna bahasa(makna leksikal) dengan unsure penunjang bahasa(makna gramatikal), tidak dapat di lihat sebagai unsure-unsure yang berdiri sendiri.
6.       Penginterpretasian dilakukan secara bertahap sesuai dengan hubungan unsure unsure yang sederajat atau setingkat. Maksutnya adalah dalam memberikan pendapat atau pandangan penganalisis melakukannya secara bertahap sesuai dengan unsure yang setara.





2.2     Prinsip Terapan Pendekatan Objektif

Beberapa prinsip dalam penganalisisan unsure penokohan drama adalah sebagai berikut :

1.       Penamaan tokoh atau gelar salah satu bagian yang perlu di jadikan dasar untuk memahami penokohan dan perwatakan. Penamaan atau gelar tokoh  sebagai symbol dari watak, kebiasaan, peran, keadaan, dan kedudukan tokoh dalam menunjang permasalahan dan konflik drama. Misalnya nama tokohnya Raja Dewantara, dengan nama ini kita pasti sudah tau kalau dewantara ini adalah seorang pemimpin yang pastinya di segani rakyatnya.
2.       Penokohan tidak sama dengan perwatakan. Perwatakan menyangkut karakteristik individual tokoh yang tergantung pada situasi, keadaan, psikis, kedudukan dan peran tokoh.
Penokohan adalah keserasian dari keseluruhan perwatakan tokoh dalam berbagai situasi, keadaan, kedudukan, dan peran tokoh dalam hubunganya dengan tokoh-tokoh lain.
Misalnya,, yang saya ambil “psikis”; missalnya ada seorang pendekar yang baik hati, suka menolong orang yang sedang kesusahan. Tanpa adanya alasan yang jelas dia di putusin sama pacar kesayanganya, kemudian sifatnya berubah total menjati sangat jahat.
3.       Jarang tokoh yang memerankan peran tunggal, pada umumnya setiap tokoh mempunyai beberapa peran yang sangat tergantung pada interaksi social yang dilakukanya.
Biasanya tokoh yang mempunya peran banyak adalah tokoh utama, contoh Drama Cinta Di Sekolah; peran utamanya adalah Wisobo, selain kerjanya jadi penjual gorengan, dia juga berperan sebagai cowok paling ganteng di SMA.
4.       Setiap peran membawa misi permasalahan dan konflik drama. Tingkah laku dan ucapan tokoh membentuk suatu perwatakan yang bersumber dari gejolak-gejolak psikis tokoh tersebut. Misal ada peran yang omonganya nglantur, sukanya ngegosip dan memfitnah, itu melambangkan kalau dirinya adalah orang jahat.
5.       Setiap peran selalu hadir berpasangan dengan peran lain dalam membentuk suatu permasalahan. Biasanya peran yang berpasangan adalah suami istri dan pacar. Misal keadaan suatu keluarga yang kurang harmonis, hampir setiap hari mereka mendapat masalah.
6.       setiap tokoh dapat di bedakan atas tiga keadaan, yaitu keadaan fisik, psikis, dan social.
a. Keadaan fisik tokoh hanya dapat berubah akibat terjadinya perubahaan waktu. Seperti Sakit demam gara-gara kehujanan.
b. Keadaan psikis tokoh dapat berubah ubah karena terjadinya perubahan waktu, tempat, peran
     dan misinya.
c. Keadaan social tokoh dapat berubah jika terjadi perubahan interaksi lawan peran.
7.       Antara keadaan fisik, psikis, dan sosiaal haruslah terdapat keserasian dan saling menunjang dalam membangun permasalahan dan konflik
8.       Unsure penokohan tidak berdiri sendiri, tetapi ia saling berhubungan dengan unsure lain. Oleh sebab itu dalam praktek interpretasi dan penyimpulan, haruslah di ketahui bersama sama dengan unsure lainya.
Beberapa prinsip dalam penganalisisan drama dengan pendekatan objektif berdasarkan penelusuran alur dapat di perhatikan prinsip terapanya sebagai berikut :
1.       Bagian  dalam unsure alur drama adalah peristiwa dan motif. Setiap satuan peristiwa menginformasikan tentang pelaku, tindakan, tempat dan waktu.
2.       Pelaku dalam satuan peristiwa dapat lebih dari seseorang. Sehingga pelaku di mungkinkan terdiri dari beberapa tokoh.
3.       Peristiwa dan motif dalam drama tidak hanya terdiri atas satuan yang setara atau setingkat
4.       Setiap satuan peristiwa tidaklah berdiri sendiri, dia saling berhubungan dengan satuan peristiwa lain. Hubunganya ini dapat di bedakan menjadi hubungan kronologis atau hubungan kausalitas dan  hubungan rasional fiktif.

Beberapa prinsip dalam penganalisisan latar dan ruang drama adalah sebagai berikut :
1.       Latar mencakup informasi tentang suasana, tempat, dan waktu
2.       Fungsi latar dan ruang adalah memperjelas unsure penokohan dan alur
3.       Pelukisan latar dan ruang dalam drama dapat saja sama dengan realitas objektif
4.       Latar dan ruang drama dapat saja berbentuk gambaran yang abstrak
5.       Unsure latar dan ruang terkait langsung dengan unsure penokohan, alur dan motif
Beberapa prinsip terapan dalam penganalisisan drama dengan penelusuran pada penggarapan bahasa drama (gaya bahasa) adalah sebagai berikut :
1.       Penggarapan bahasa atau gaya bahasa merupakan cara yang paling baik untuk menyampaikan informasi penokohan, peristiwa, dan motif. Latar dan ruang dengan memanfaatkan kelebihan dan kekurangan bahasa tulisan sebagai medium teks drama
2.       Perbedaan watak tokoh akibat tuntutan peran tokoh yang berbeda, harus di bedakan oleh gaya bahasa

2.3     Prinsip Umum Pendekatan Mimesis

Beberapa prinsip umum dalam penganalisisan drama dengan menggunakan pendekatan mimesis adalah sebagai berikut  :
1.       Karya sastra sebagai sesuatu yang otonom bukan berarti tidak boleh di hubungkan dengan realitas objek.
2.       Hubungan rekaan dengan kenyataan tidaklah berlangsung secara keseluruhan, tetapi berhubungan antara bagian rekaan dengan bagian kenyataan
3.       Kondisi kehidupan social budaya seperti dalam kenyataan realitas objektif tidaklah terpilah pilah sebagai kondisi ekonomi semata, bisa juga kondisi agama, dan kondisi politik.
4.       Besar atau kecil hubungan antara kenyataan drama dengan realitas objektif tidaklah dapat di jadikan tolok ukur berhasilnya atau gagalnya sebuah karya drama
5.       Unsure drama yang berhubungan dan penting di telusuri hanyalah unsure isi drama, yaitu penokohan, alur, peristiwa dan motif, latar dan ruang, serta konflik. Sedangkan hubungan struktur drama tidak perlu di telusuri
6.       Secara garis besar ada dua metode yang di kembangkan dalam meninjau hubungan kenyataan drama dengan kenyataan realitas objektif. Pertama dari perumusan permasalahan dunia rekaan di telusuri ke permasalahan yang terdapat dalam realitas objektif. Kedua dari rumusan permasalahan realitas objektif di tentukan oleh permasalahan dalam drama.

2.4     Prinsip Terapan Pendekatan Mimesis
Beberapa prinsip dalam penelusuran permasalahan drama ke permasalahan realitas objektif adalah sebagai berikut :
1.       Penemuan permasalahan dan konflik drama tetap dengan menggunakan pendekatan objektif
2.       Dari satuan permasalahan yang telah di identifikasi, di telusuri permasalahan yang sama dalam realitas objektif
3.       Permasalahan di dalam drama akan menunjukkan kecenderungan yang lebih dekat dengan salah satu permasalahan dalam realitas objektif.
4.       Perumusan praktis dalam realitas objektif sangat di tentukan oleh latar dan ruang drama
5.       Pencarian dan perumusan permasalahan praktis dapat di lakukan dengan kepustakaan atau dengan daftar pertanyaan kepada responden dalam masyarakat yang di acu oleh latar drama
6.       Jika rumusan dan pencarian praktis dalam realitas objektif di lakukan dengan responden, maka harus di pertimbangkan
a.       Pernyataan di susun berdasarkan identifikasi permasalahan drama
b.      Jika permasalahan di dalam drama selalu berhubungan, maka pernyataan juga harus disusun dalam satu paket
c.       Pilihan jawaban pernyataan di utamakan sebagaimana yang terdapat dalam data drama, tetapi harus di tambahkan dengan hal-hal yang tidak di singgung drama
d.      Responden harus di sesuaikan dengan identifikasi peran yang terdapat dalam drama
e.      Sekurang kurangnya responden sebanyak 20 orang , semakin banyak sesponden akan semakin baik.
7.       Hasil rumusan praktis dalam realitas objektif tidak untuk di bandingkan begitu saja, tetapi rumusan itu di gunakan sebagai alat banding untuk menginterpretasikan dan menyimpulkan permasalahan drama
8.       Satuan permasalahan sebuah drama akan lebih dekat dengan rumusan normatif, sedangkan yang lainya lebih dekat dengan rumusan praktis


A.    Pandangan Plato Mengenai Drama Melalui Pendekatan Mimesis
Menurut Plato mimesis hanya terikat pada ide pendekatan. Tidak pernah menghasilkan kopi sungguhan, mimesis hanya mampu menyarankan tataran yang lebih tinggi. Mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan tidak mungkin mengacu secara langsung terhadap dunia ideal. Hal itu disebabkan pandangan Plato bahwa seni dan sastra hanya mengacu kepada sesuatu yang ada secara faktual, Plato mengatakan bila seni hanya menimbulkan nafsu karena cenderung menghimbau emosi, bukan rasio (Teew. 1984:221).
Plato sangat memandang rendah seniman dan penyair dalam bukunya yang berjudul Republic bagian kesepuluh. Bahkan ia mengusir seniman dan sastrawan dari negerinya. Karena menganggap seniman dan sastrawan tidak berguna bagi Athena, mereka dianggap hanya akan meninggikan nafsu dan emosi saja. Pandangan tersebut muncul karena mimesis yang dilakukan oleh seniman dan sastrawan hanya akan menghasilkan khayalan tentang kenyataan dan tetap jauh dari ‘kebenaran’. Seluruh barang yang dihasilkan manusia menurut Plato hanya merupakan copy dari Idea, sehingga barang tersebut tidak akan pernah sesempurna bentuk aslinya (dalam Idea-Idea mengenai barang tersebut). Sekalipun begitu bagi Plato seorang tukang lebih mulia dari pada seniman atau penyair. Seorang tukang yang membuat kursi, meja, lemari dan lain sebagainya mampu menghadirkan Idea ke dalam bentuk yang dapat disentuh panca indra. Sedangkan penyair dan seniman hanya menjiplak kenyataan yang dapat disentuh panca indra (seperti yang dihasilkan tukang),mereka oleh Plato hanya dianggap menjiplak dari jiplakan.
B.     Pandangan Aristoteles Mengenai Drama Melalui Pendekatan Mimesis

Aristoteles adalah seorang pelopor penentangan pandangan Plato tentang mimesis, yang berarti juga menentang pandangan rendah Plato terhadap seni. Aristoteles justru menganggap seni sebagai sesuatu yang bisa meninggikan akal budi. Aristoteles menganggap seniman dan sastrawan yang melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif untuk menghasilkan kebaruan. Seniman dan sastrawan menghasilkan suatu bentuk baru dari kenyataan indrawi yang diperolehnya. Dalam bukunya yang berjudul Poetica (via Luxemberg.1989:17), Aristoteles mengemukakakan bahwa sastra bukan copy (sebagaimana uraian Plato) melainkan suatu ungkapan mengenai “universalia”.


Ciri-ciri Pendekatan Mimesis Menurut Plato
·         Ide-ide tidak akan bisa berubah
·         Keindahan-keindahan suatu drama mengacu kepada ide-ide dan gagasan-gagasan.

Ciri-ciri Pendekatan Mimesis Menurut Aristoteles
* Menurut Aristoteles, cirri khas seni adalah kemampuannya membedah alam dan mengupas esensinya.
* Dalam suatu drama terdapat keindahan suatu benda hakikatnya tercermin dari keteraturan, kerapihan, keterukuran, dan keagungan.
*   Benda-benda jasmani tidak akan bisa berubah.



C.    Pandangan Aristoteles Mengenai Drama Melalui Pendekatan Objektif
Menurut aristoteles pendekatan objektif sesungguhnya sama tuanya di dunia barat dengan puitika sebagai cabang ilmu pengetahuan. Aristoteles dalam bukunya yang berjudul poetika, ditulis sekitar tahun 340 SM di Athena. Beranggapan bahwa karya sastra sebagai struktur yang otonom. Menurut pandangan aristoteles dalam sebuah drama yang paling penting adalah action (tindakan) bukan character (watak).


Pandangan Abrams tentang pendekatan Objektif

Pendekatan objektif pada prinsipnya memandang karya seni terpisah dari segala sesuatu yang berada di luar karya tersebut. Dalam melakukan analisis dengan sendirinya cukup dengan sesuatu yang sudah ada di dalam karya.

BAB III

PENUTUP

3.1    Kesimpulan

Jadi dalam penganalisisan sebuah drama ada dua cara yang dapat di gunakan, yaitu prinsip pendekatan objektif dan prinsip pendekatan mimesif. Kedua cara tersebut pun masih di bagi menjadi empat bagian lagi, yaitu: prinsip umum pendekatan objektif, prinsip terapan pendekatan objektif, prinsip umum pendekatan mimesif, dan prinsip terapan pendekatan mimesif. Peganalisisan drama melalui prinsip pendekatan objektif, dalam menganalisis peneliti tidak perlu mengait ngaitkan cerita kedalam keadaan yang nyata. Sedangkan penganalisisan drama melalui prinsip pendekatan mimesif peneliti perlu mengaitkan cerita kedalam keadaan yang sebenarnya atau lingkungan yang nyata.

3.2    Saran
          Bagi peneliti awam hendaknya menerapkan prinsip pendekatan objektif dalam melakukan penganalisisan sebuah drama, karena prinsip pendekatan objektif ini lebih mudah di pahami dan tidak terlalu menguras otak dalam menganalisis karena tidak perlu menghubung hubungkan teks drama dengan keadaan lingkungan yang nyata.
URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini