Contoh Resume Bentuk2 Folklor Indonesia


SEMESTER 3
Bentuk-bentuk Folklor
Indonesia

  Folklor mempunyai unsur-unsur yang di sebut dengan istilah Prancis genre.
Jan Harold Brunvand adalah seorang ahli folklor dari AS, menurut Jan Harold folklor dapat di golongkan menjadi tiga kelompok besar berdasarkan tipenya:
a.       folklor lisan (verbal folklore)
b.      folklor sebagian lisan (partly verbal folklore)
c.       folklor bukan lisan (non verbal folklore)
                Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan, seperti :
bahasa rakyat (logat, julukan, pangkat tradisional, dan title kebangsaan).
Ungkapan tradisional (peribahasa dan pepatah).
Pertanyaan tradisional (teka-teki)
Puisi rakyat (pantun, gurindam, dan syair).
Cerita prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng)
                Folklor sebagian lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan.
                Folklor bukan lisan adalah folklore yang bentukya bukan lisan.
Kelompok ini dapat di bagi menjadi dua sub kelompok, yakni material dan bukan material.
                Yang tergolong ke dalam sub material adalah:
Arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi).
Kerajinan tangan rakyat (pakaian dan perhiasan tubuh adat)
Makanan dan minuman rakyat, dan obat-obatan tradisional.
                Sedangkan yang termasuk sub bukan material adalah:
Gerak isyarat tradisional (gesture)
A.      Beberapa contoh folklore lisan di Indonesia.
1.       Bahasa rakyat
                Yang termasuk ke dalam kelompok bahasa rakyat adalah : logat dan bahasa nusantara. Bentuk lain bahasa rakyat adalah slang.
Tujuan di ciptakannya bahasa slang adalah untuk menyamarkan arti bahasanya terhadap orang luar.
Bahasa rakyat lainya yang mirip dengan slang adalah shop talk(bahasa para pedagang)
Selanjutnya bentuk lain dari slang adalah colloquial, yakni bahasa sehari-hari yang menyimpang dari bahasa konvensional.
                Bentuk lain bahasa rakyat adalah:
a.        sirkumlokusi (ungkapan tidak langsung)
b.      bahasa bertingkat. Bahasa bertingkat berlaku pada masyarakat yang bersistem pemerintahan kerajaan.
c.       Kata-kata onomatopoetis. Kata-kata yang di bentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah.
d.      Onomastis. Nama tradisional jalan atau tempat-tempat tertentu yang mempunyai legenda.
                Fungsi bahasa rakyat
a.       Untuk memberi serta memperkokoh identitas folknya.
b.      Untuk melindungi folk pemilik folklore itu dari ancaman kolektif lain atau penguasa.
c.       Untuk memperkokoh kedudukan folknya  pada jenjang pelapisan masyarakat.
d.      Untuk memperkokoh kepercayaan masyarakat dari folknya.
2.       Ungkapan tradisional (peribahasa)
                Ungkapan tradisional memiliki tiga sifat hakiki, di antaranya adalah:
a.       Peribahasa harus berupa satu kalimat ungkapan.
b.      Peribahasa ada dalam bentuk yang sudah standar.
        Contoh: Seperti katak yang congkak(peribahasa)
                         Seperti kodok yang sombong(bukan peribahasa)
c.       Suatu peribahasa harus memiliki vitalitas(daya hidup) tradisi lisan.
Peribahasa dapat di bagi menjadi empat golongan besar. Di antaranya adalah:
a.      Peribahasa yang sesungguhnya
                Ungkapan tradisional yang mempunyai sifat-sifat:
a.       Kalimatnya lengkap.
b.      Bentuknya biasanya mengalami perubahan.
c.       Mengandung kebenaran atau kebijaksanaan.
b.      Peribahasa yang tidak lengkap kalimatnya.
                Mempunyai sifat-sifat khas, diantaranya adalah:
a.       Kalimatnya tidak lengkap.
b.      Bentuknya sering berubah.
c.       Jarang menggunakan kebijaksanaan.
d.      Biasanya bersifat kiasan.
c.       Peribahasa bersifat perumpamaan(ungkapan tradisional)
                Contoh: seperti telur di ujung tanduk.
d.    Ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa.
                Ungkapan yang di gunakan untuk penghinaan, atau suatu jawaban pendek, tajam, lucu dan dapat menyakitkan hati.

3.       Pertanyaan tradisional
                Pertanyaan trdisional adalah pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Di Indonesia pertanyaan tradisional lebih terkenal dengan teka-teki.
Teka-teki dapat di golongkan menjadi dua kategori umum, yakni :
a.       Teka-teki yang tidak bertentangan dan
b.      Teka-teki yang bertentangan.


                Teka-teki tidak bertentangan                    
Contoh Teka-teki yang tidak bertentangan: “apa yang hidup di sungai?”
Maka jawabanya adalah:”ikan” topic dan referenya sama, yaitu ikan.
Contoh lain dari teka-teki yang tidak bertentangan adalah:
apa itu dua baris kuda putih berbaris di atas kuda merah?”
Maka jawabnya adalah: “sederet gigi di atas gusi” topic dan referenye berbeda karena topiknya adalah (kuda), dan referenye adalah (gigi).

                Teka-teki berentangan                 
Suatu teka-teki baru dapat di golongkan ke dalam jenis teka-teki bertentangan adalah yang bersifat:
a)      Antithetical comtradictive
Apa bila hanya ada salah satu dari sepasang unsure pelukisanya yang bertentangan benar.
b)      Privational contradictive opposition
Apa bila unsure kedua dari sepasang unsure pelukisan mengingkari suatu tanda(attribute) unsure pertama yang wajar dan logis.
c)       Causal contradictive opposition
Apabila bagian pasangan unsur pelukisanya mengingkari akibat wajar suatu perbuatan yang di lakukan oleh benda yang terkandung dalam bagian pelukisan yang pertama .

4.          Sajak dan puisi rakyat

Kekhususan genre folklore lisan ini adalah kalimatnya tidak berbentuk bebas tetapi berbentuk terikat.
Sajak atau puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah tertentu bentuknya.
Bentuk-bentuk puisi rakyat terdiri atas ungkapan tradisional (peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat yang berupa mantra-mantra.

5.          Cerita prosa rakyat

Cerita prosa rakyat terdiri atas tiga golongan besar, yaitu :
1.       Mite
2.       Legenda
3.       Dongeng

        Mite adalah cerita prosa rakyat yang di anggap benar-benar terjadi serta di anggap suci oleh eang empuh cerita.
        Legenda adalah cerita prosa rakyat yang mempunyai cirri-ciri mirip dengan mite, yang benar-benar terjadi tapi tidak di anggap suci.
        Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak di anggap benar-benar terjadi oleh eang empuhnya.

[+] Jika artikel ini bermanfaat untuk Anda, silahkan beritahu kami dengan cara menekan tombol Suka atau Like dibawah:

# Segala masukan, kritik dan saran akan sangat kami hargai demi meningkatkan kualitas blog ini.!!
# Komentar para sahabat akan langsung tampil tanpa dimoderasi, jadi tolong berkomentar yang sopan dan relevan!!