Contoh Surat Gugat Cerai Serta Hak Asuh Anak dan Tuntutan Balik

Mumpung sedang musim kawin, saya akan berbagi informasi kepada para pengunjung seputar perkawinan.
Dalam suatu hubungan rumah tangga, tentu akan ada yang namanya kesalah pahaman, perselisihan pendapat, berbeda pemikiran dan lain sebagainya yang dapat memicu ketidak harmonisan rumah tangga.

Sebetulnya itu adalah hal yang lumrah, dan sudah seharusnya kita sebagai mahluk cerdas harus sigap menanganinya.

Namun tidak jarang juga yang egois, tidak mau mengalah dan selalu merasa benar. Lebih-lebih jika antara si suami dan istri memiliki sifat buruk seperti itu, maka keinginan untuk bercerai tidak dapat di elakan.

Meskipun menurut Undang Undang Dasar (UUD) diperbolehkan bercerai, namun alangkah baiknya jika kita coba pertahankan dengan berbagai cara. Lagipula, untuk umat muslim, bercerai merupakan tindakan yang tidak disukai oleh Allah.

Saya disini mencoba menyarankan kepada Anda untuk berfikir lebih matang dalam memilih perceraian ini. Sebab, meskipun Anda masih muda namun ibarat barang jika sudah sekend maka harganya akan berkurang jauh dari yang masih original (segel). Apalagi jika umur Anda sudah berkepala 3 atau bahkan lebih, jadi silahkan difikir-fikir lagi.

OK. Mungkin keyakinan Anda untuk bercerai sudah mantap? Tidak apa-apa, disini saya akan coba membantu Anda jika memang itu yang Anda inginkan.

Disini saya telah sediakan tiga contoh gugat perceraian secara langsung yang mudah-mudahan bisa membantu permasalahan Anda.

1. Contoh Surat Gugatan Cerai Tanpa Hak Asuh Anak (Belum Punya Anak)

Contoh surat gugatan perceraian ini hanya digunakan jika Anda belum punya keturunan alias Anak, tidak menggugat harta bersama, dan lainnya. Intinya hanya ingin bercerai saja tanpa meminta apapun yang dia miliki.

Lihat Contohnya: https://docs.google.com/viewer?url=http://contohpedi.com/wp-content/uploads/2012/01/contoh-surat-gugatan-cerai.docx

2. Contoh Surat Gugat Cerai disertai Gugat Hak Asuh Anak

Surat gugatan perceraian yang disertai (diakumulasikan) dengan gugat hak asuh anak (hadhanah) diperlukan jika Penggugat cerai ingin menuntut hak asuh anaknya agar dilimpahkan kepadanya, baik karena anaknya berada atau bersama tergugat maupun masih bersama tergugat untuk menghindari terjadinya sengketa hak asuh anak di kemudian hari.

Lihat Contohnya: http://docs.google.com/viewer?url=http://contohpedi.com/wp-content/uploads/2014/11/contoh-surat-gugatan-cerai-disertai-anak.docx

TEKNIK PENULISAN
Teknik penulisan ini hanya berlaku untuk surat cerai tanpa gugat dan surat cerai dengan gugat hak asuh anak.
  1. Identitas para pihak termasuk pekerjaan, pendidikan dan alamat domisilinya saat ini harus dicantumkan dengan benar.
  2. Alasan gugatan atau dalil-dalil harus ditulis secara kronologis dan logis menurut hukum. Kronologis artinya peristiwa yang membuat seseorang mempunyai hak dan kewajiban secara hukum.
  3. Petitum atau inti yang diminta dari sebuah surat gugatan harus jelas dan berdasarkan dalil-dalil (posita). Jangan sampai meminta sesuatu dalam petitum sementara tidak dijelaskan dalam posita mengapa Penggugat berhak untuk memintanya.
  4. Ditandatangani oleh Penggugat tanpa materai.

3. Contoh Surat Jawaban Perceraian Dengan Tuntutan Balik (Rekonpensi)

Dalam hal perceraian dipengadilan yang diajukan oleh pihak suami (cerai talak), isteri dapat memperoleh hak-haknya seperti nafkah lampau yang tidak diberikan, nafkah anak, nafkah iddah dan nafkah mut’ah. Hanya saja hak-hak tersebut harus diminta lewat perantara Majelis Hakim yang menyidangkannya. Jadi harus selalu hadir dalam persidangan terutama pada saat tahap jawaban atas surat permohonan yang diajukan oleh suami. Karena pada saat jawaban tersebutlah isteri dapat menuntut semua haknya.

Lihat Contohnya: http://docs.google.com/viewer?url=http://contohpedi.com/wp-content/uploads/2013/10/contoh-surat-jawaban-rekonpensi-contohpedi.c0m.docx

TEKNIK PENULISAN
  1. Tanggal, dan tempat pembuatan surat.
  2. Identitas para pihak seperti dalam surat gugatan.
  3. Jawaban atas beberapa posita dalam surat gugatan yang perlu ditanggapi dengan judul “Dalam Konpensi”.
  4. Tuntutan balik tentunya didahului dengan alasan dan dasar hukumnya mengapa Anda menuntut balik kepada Penggugat.
  5. Petitum surat jawaban dan gugatan balik.
  6. Tanda tangan oleh Tergugat atau kuasa hukumnya.

Source:
http://contohpedi.com/2012/01/contoh-surat-gugatan-cerai/
http://contohpedi.com/2013/10/contoh-surat-jawaban-perceraian-dengan-tuntutan-balik-gugat-rekonpensi/
http://contohpedi.com/2014/11/contoh-surat-gugat-cerai-disertai-gugat-hak-asuh-anak/
URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini