Jenis Ayam Ketawa yang Harganya Ratusan Juta Rupiah

ayam ketawa

Asal Usul Ayam Ketawa

Sidrap (Sidenreng Rappang) adalah salah satu kabupaten di Prop. Sulawesi Selatan, yang berjarak ± 200 km dari Makassar. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.

Sejarah

Di daerah ini pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama "Nenek Mallomo".

Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana.
Terjemahan : "sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak".

Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya.

Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh paraPallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat.

Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.

Topografi

Kabupaten Sidenreng Rappang terletak pada ketinggian antara 10 m – 1500 m dari permukaan laut. Keadaan Topografi wilayah di daerah ini sangat bervariasi berupa wilayah datar seluas 879.85 km² (46.72%), berbukit seluas 290.17 km² (15.43%) dan bergunung seluas 712.81 km2 (37.85%

Perekonomian

Selain penghasil utama beras di Indonesia Bagian Timur, daerah ini juga merupakan penghasil utama telur ayam dan telur itik di luar Pulau Jawa. Komoditas pertanian lainnya adalah kakao, kopra, mete dan kemiri. Kabupaten Sidrap juga dijuluki dengan ” Lumbung Padi “.

Transportasi

Kabupaten Sidenreng Rappang berjarak ± 200 km dari Makassar menuju arah Palopo, yang berbatasan dengan Kotamadya Pare-pare, Pinrang, Enrekang, Soppeng dan Wajo. Untuk menuju daerah ini bisa menggunakan mobil penumpang.

Kawasan Sidrap (sidenreng Rappang) selama ini dikenal masyarakat sebagai lumbung padi Sulawesi selatan, namun sebenarnya daerah dengan tanah subur ini memiliki satu potensi unggulan di bidang perunggasan yang belum dibudidayakan secara maksimal.

Di daerah sidrap terdapat satu jenis ayam yang berbeda dengan ayam yang selama ini kita kenal, ayam tersebut memiliki ciri khas dari suara yang sangat unik kalau berkokok.

Secara pisik ayam tersebut hampir sama dengan ayam biasa, Kokok Ayam Sidrap, pada ujung suara kokok seperti orang ketawa, Jenis ketawanya bermacam-macam.
Didaerah asalnya ayam ini disebut Ayam Gaga’, tetapi karena suara kokoknya seperti orang ketawa, maka ayam ini di sebut Ayam Ketawa.

Ayam Ketawa sangat langkah karena dari sejarah nya dahulu yang memelihara ayam ketawa rata-rata Bangsawan, dan merupakan symbol status sosial sehingga masyarakat sangat jarang memeliharanya karena ada perasaan segan dan hormat pada Rajanya ,sehingga perkembangan Ayam ketawa Sangat terbatas.

Ayam Ketawa hanya dapat ditemukan di kampung Baranti, Panca Rijang, benteng, Simpo Arasi’e dan sekitarnya yang dipelihara dalam lingkungan keluarga, Ayam Ketawa atau Ayam Gaga’, hanya dapat dihasilkan dari perkawinan sejenis.

Dilihat dari warna baku Ayam Ketawa, Menurut M.Yusuf MD, dan Toko masyarakat lain, Ayam Ketawa yang digemari oleh masyarakat Bugis meliputi :

  • Bakka : Ayam Ketawa yang warna dasar Putih mengkilap dengan dihiasi warna dasar hitam, oranye, merah dan kaki hitam atau putih.
  • Lappung : Ayam Ketawa warna dasar bulu hitam dengan merah hati dengan merah hati, dan mata putih.
  • Ceppaga : Ayam Ketawa warna dasar hitam dengan dihiasi bulu hitam dan putih, ditambah betuk putih dibadan sampai pangkal leher dan kaki hitam.
  • Kooro : Ayam Ketawa Warna dasar hitam dengan dihiasi hijau atau putih dan kuning mengkilabdan kaki kuning atau hitam.
  • Ijo Buata : Ayam Ketawa warna dasar hijau dihiasi merah, diselingi warna hitam disayap, kaki warna kuning.
  • Bori Tase’ : Ayam ketawa warna dasar bulu merah dan dihiasi bintik bintik kuning keemasan.

Harga Ayam Ketawa

Saat ini telah banyak yang menjual ayam ketawa dengan harga yang sangat terjangkau. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Anda dapat mencarinya di situs jual beli, disana sangat beragam jenis dan harga yang ditawarkan.

Namun, seperti dikutip dari TribunNews oleh pengakuan Slamet, salah satu pecinta ayam ketawa sekaligus Ketua Panitia Kontes Penggemar Ayam Ketawa Semen Indonesia (Paksi), asal usul ayam ketawa sangat mempengaruhi kualitas berkokoknya.

Misalnya, anak ayam dari ayam ketawa yang pernah dapat juara nasional, harganya pasti mahal. Contohnya ayam ketawa yang berkokoknya bagus harganya setinggi Rp 120 Juta, sehingga diperlukan ketelitian, kesabaran, modal dan waktu untuk menyalurkan hobi ayam ketawa asli Indonesia," jelasnya.

Sumber:
http://rajaayamketawa.blogspot.co.id/2011/04/asal-mula-ayam-ketawa.html
http://surabaya.tribunnews.com/2013/10/27/penggemar-harus-tahu-asal-usul-ayam-ketawa
URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini