Ciri-Ciri Kesombongan yang Perlu Anda Tahu


Mungkin selama ini kamu memiliki anggapan bahwa seseorang yang memiliki sifat sombong itu adalah sesuatu yang tidak baik, karena terlalu memuji diri sendiri dengan menganggap remeh orang lain.

Kesombongan itu sendiri berasal dari kata sombong (dari bahasa bahasa Inggris: pride, bahasa Latin: superbia), yang memiliki makna suatu perasaan atau emosi dalam hati yang dapat mengacu pada dua makna umum.

Seperti yang tertulis di WikiPedia, Dalam konotasi negatif biasanya mengacu pada perasaan meningkatnya status atau prestasi seseorang, seringkali disebut "keangkuhan". Sementara dalam konotasi positif mengacu pada satu perasaan puas diri seseorang terhadap tindakan atau pilihannya sendiri, atau terhadap pihak lain, atau juga terhadap suatu kelompok sosial; dapat dikatakan sebagai satu produk turunan dari pujian, refleksi diri, atau rasa memiliki yang terpenuhi. Para filsuf dan psikolog sosial telah mengamati bahwa kesombongan adalah suatu emosi sekunder yang kompleks, yang memerlukan pengembangan dari satu perasaan pribadi dan penguasaan perbedaan konseptual yang relevan (misalnya membedakan kesombongan dari kebahagiaan dan sukacita) melalui interaksi secara lisan dengan orang lain. Beberapa psikolog sosial juga mengidentifikasinya terkait dengan suatu sinyal dari status sosial yang tinggi.

Arti kesombongan juga bisa ditemukan dari beberapa konteks, diantaranya:

Menurut Pandangan Psikologi

Dalam konteks psikologi, kesombongan merupakan suatu emosi yang menyenangkan, terkadang menggembirakan, sebagai hasil dari evaluasi diri yang positif. Tracy dan yang lain menambahkannya dalam UCDSEE (University of California, Davis, Set of Emotion Expressions) pada tahun 2009 sebagai salah satu dari 3 emosi "kesadaran diri" -- selain rasa malu (shame dan embarrassment) -- yang diketahui memiliki ekspresi yang dapat dikenali.

Ekspresi wajah dan gerak tubuh yang menunjukkan kesombongan dapat berupa mengangkat dagu, tersenyum, atau tolak pinggang untuk menunjukkan kemenangan. Seseorang mungkin secara implisit menyatakan status kepada orang lain semata-mata berdasarkan ekspresi kesombongan mereka, bahkan saat ia tidak bermaksud demikian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekspresi nonverbal dari kesombongan menyampaikan suatu pesan yang secara otomatis dirasakan orang lain mengenai tingginya status sosial orang tersebut dalam suatu kelompok.

Dampak Kesombongan
Pemahaman umum dari kesombongan adalah merupakan hasil dari kepuasan yang diarahkan sendiri untuk memenuhi tujuan pribadi; contohnya, Weiner et al, mengemukakan bahwa hasil kinerja yang positif menimbulkan kesombongan dalam diri seseorang ketika perbuatannya dinilai sebagai hasil dari dirinya sendiri saja. Selain itu, Oveis et al, mengkonsepkan kesombongan sebagai suatu penampilan diri yang kuat yang mempromosikan rasa kesamaan untuk menguatkan orang lain, sebagaimana juga sebagai diferensiasi untuk melemahkan yang lainnya. Dilihat dari sisi ini, menurut Oveis et al, kesombongan dapat dikonsepkan sebagai suatu emosi yang memperkaya hirarki karena pengalaman dan penampilannya membantu menyingkirkan negosiasi konflik.

Menurut Pandangan Agama

Santo dan Thomas Aquinas berpendapat bahwa kesombongan adalah suatu perasaan dimana manusia menilai dirinya lebih dari kenyataannya; kehendaknya sudah berlawanan dengan nalar dengan mengharapkan sesuatu yang tidak wajar, sehingga kesombongan merupakan dosa.

Dengan bahasa yang lugas dan berbeda, Santo Yohanes Maria Vianney menggambarkan orang yang sombong sebagai orang yang haus pujian, orang yang menunjukkan kerendahan hati palsu. Menurutnya, seseorang yang sombong selalu memperolok dirinya sendiri dengan tujuan agar orang lain semakin memujinya.

Semakin seseorang yang sombong merendahkan dirinya, semakin banyak ia mengharapkan puji-pujian atas kesia-siaannya yang menyedihkan itu. Orang yang sombong memenuhi khayalannya dengan segala yang telah dikatakan orang untuk memuji dirinya sendiri, dan dengan segala daya upaya berusaha untuk memperoleh lebih banyak pujian lagi karena ia tidak pernah puas dengan pujian.

Adapun Jenis-jenis Kesombongan

Santo Gregorius Agung mengkategorikan kesombongan menjadi 4 jenis:
  • Merasa bahwa kebaikannya berasal dari dirinya sendiri
  • Merasa bahwa kebaikannya berasal dari Tuhan dan karena jasanya
  • Membanggakan sesuatu yang tidak dimilikinya
  • Memandang rendah orang lain dan merasa sebagai satu-satunya pemilik dari apa yang dimilikinya

12 Tingkat Kesombongan

  • Rasa ingin tahu akan segala sesuatu
  • Pikiran sembrono, senang bicara yang tidak penting
  • Kegembiraan & gelak tawa di luar kewajaran
  • Suka membual & banyak bicara
  • Suka menonjolkan diri supaya nampak suci
  • Suka dipuji, merasa lebih suci dibanding orang lain
  • Merasa dapat melakukan segala sesuatu di atas kemampuannya
  • Pembenaran diri, merasa tidak berdosa
  • Tidak jujur dalam pengakuan dosa karena takut silih yang berat
  • Pemberontakan terhadap peraturan dan atasan yang berwenang
  • Berbuat dosa dengan bebas
  • Terbiasa berbuat dosa

12 Tingkat Kerendahan Hati

  • Penyangkalan kehendak diri dalam kebersahajaan sikap tubuh
  • Berbicara yang terkendali & tenang
  • Pantang tertawa berlebihan, cukup tertawa ringan
  • Hanya berbicara jika diminta
  • Memandang diri tidak ada hak istimewa di masyarakat, taat peraturan
  • Merasa diri lebih berdosa dibanding orang lain, dan menyatakannya
  • Memandang diri tidak layak untuk menerima atau melakukan segala hal
  • Mengaku dosa
  • Sabar dan tetap taat peraturan dalam saat sulit
  • Ketaatan terhadap peraturan dan atasan yang berwenang
  • Keinginan untuk menekan kehendak atau kepentingan diri
  • Takut akan Tuhan dengan kewaspadaan terhadap dosa

URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini