Foto Wajah + Biodata Pembuat Vaksin Palsu Tanpa Sensor

Belakangan ini beredar informasi tertangkapnya pasangan suami istri (pasutri), yang telah 13 tahun lolos praktik membuat vaksin palsu yang diperuntukkan bagi balita.

Bukan cuma kedua orang ini, seperti dilansir merdeka.com, pasutri tersebut adalah 2 dari 10 orang yang masih dalam penyelidikan untuk dikembangkan.

Terbongkarnya praktik ilegal ini berawal dari laporan salah satu warga yang mengatakan ada balita meninggal setelah diimunisasi.

gambar pasutri pembuat vaksin palsu
Nama pelaku:
  • Hidayat Taufiqurahman
  • Rita Agustina

Pasangan ini kerap kali mengunggah aktifitas berdua di akun Facebook miliknya. Sayangnya sekarang akun FB-nya sudah dihapus, sehingga tidak dapat diakses lagi.

Profil:
Dari keterangan warga sekitar, pelaku dikenal cukup baik, namun jarang bersosialisasi dengan warga lain.

Alamat:
Jalan Kumala 2 Blok M, Nomor 29, Bekasi.

foto rumah hasil bisnis vaksin palsu
Perumahan:
  • Mewah: Ya
  • Lantai: 2
  • Belakang rumah terdapat kolam renang minimalis
  • Dilengkapi garasi mobil (Mobil Mitsubishi Pajero)

Riwayat penyelidikan:

Sejak tiga bulan lalu dan akhirnya terungkap juga siapa yang menciptakan vaksin palsu yang sempat meresahkan masyarakat tersebut. Kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya, seperti dikutip dari Antara, Jakarta, Jumat (24/6).

Bisnis vaksin palsu tersebut diperkirakan menghasilkan keuntungan sebesar Rp.25 juta bagi produsen dan Rp.15 juta bagi distributor / minggu.

Seperti lansiran Merdeka.com, saat ini telah terindikasi beberapa rumah sakit, apotik dan bidan tertentu yang terlibat praktik pembuatan vaksin palsu.

Pidana:
Para tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tersangka diancam hukuman makasimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp.1,5 milyar

Cara pelaku membuat vaksin palsu
Ternyata pelaku mengumpulkan botol bekas vaksin yang telah dibuang. Lalu, botol tersebut diisi dengan cairan infus dan antibiotik yang berbahaya jika digunakan sebagai imunisasi bayi. Mungkin ini adalah salah satu penyebab mengapa sulit membedakan vaksin asli dengan palsu.

Sementara itu, seperti dilansir Kompas.com, label kemasan vaksin palsu dicetak di percetakan di Kalideres, Jakarta Barat. Larutan dibuat dengan cara mencampurkan antibiotik Gentacimin dengan cairan infus, yang kemuidan dimasukkan kedalam botol vaksin bekas dan diberi label. Ada pula cairan yang ditambahkan vaksin tetanus.

TIPS:

Bagi para ibu-ibu dan bidan atau siapapun yang terkait dengan imunisasi bayi, sebaiknya botol vaksin yang telah kosong dilenyapkan dengan cara dibakar agar tidak dapat dipakai lagi sebagai pembuatan vaksin palsu.
URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini