Mengapa Induk Jangkrik Mati Setelah Bertelur

Telur jangkrik
Penyebab Indukan jangkrik mati setelah mengeluarkan telur.

Membudidayakan jangkrik itu mudah-mudah susah. Ya, mudah bagi yang sudah tau caranya, dan susah bagi yang belum tahu triknya, seperti halnya penulis blog ini.

Disini saya ingin berbagi pengalaman seputar ternak jangkrik yang kurang lebih sekitar 5 bulan terakhir mecoba memperdalam ilmu budidaya hewan yang masuk dalam kategori serangga ini. Tentunya perjalanan saya tidak semulus yang saya bayangkan, bahkan saat ini, usaha saya bisa dibilang gagal.

Saya berkeinginan memelihara jangkrik bukan karena ingin menjualnya, tapi untuk memenuhi pakah hewan ternak saya. Banyaknya jatah pakan harian membuat saya harus berfikir keras untuk bisa menciptakan pakan sendiri agar lebih irit untuk biaya.

Berbagai metode sudah saya coba, mulai dari membuat box khusus untuk indukan jangkrik, sampai akhirnya saya menyerah, dan akhirnya tidak memisahkan antara jangkrik yang siap kawin dengan yang masih kecil.

Awalnya saya coba mencari Indukan jangkrik super asli dari alam (bukan dari hasil ternak). Menurut cerita, indukan jangkrik yang paling bagus agar anaknya tumbuh besar dan garang adalah dari perkawinan jangkrik liar. Memang pada kenyataannya, jangkrik liar/ yang sering berbunyi malam hari di pinggiran rumah postur tubuhnya jauh lebih besar dari jangkrik ternak.

Karena penasarn, sama coba teknik tersebut. Saya mengambil strategi 1/5 (jantan 1, betina 5). Dalam proses mengawinkan jangkrik, indukan betina harus lebih banyak daripada indukan jantan, hal ini untuk mengurangi tingkat kematian. Pendekatan ini sudah diakui para pembuidaya jangkrik diseluruh dunia. Jika induk jantan jumlahnya sama atau bahkan lebih banyak dari indukan betina, besar kemungkinan indukan jantan akan saling bunuh untuk memperebutkan indukan betina.

Hari pertama saya sangat berharap agar mereka bisa saling kenal dan akhirnya menikah, kawin maksudnya sob hehe. Selanjutnya, meninggalkan ratusan keturunan baru. Tapi sampai hari ketiga, saya lihat belum ada tanda-tanda kehidupan, namun saya melihat sebagian indukan ada yang lemas. Saya pikir, karena tidak diberi minum, akhirnya saya semprot dengan air yang telah dimasukkan kedalam botol pelicin pakaian. Untuk pakan, saya kasih daun ubi segar dan sayuran lain yang ada dikulkas, juga sedikit foor ayam merek biasa.

Waktu terus berjalan, hingga pada minggu ketiga, saya tidak melihat hasil yang memuaskan. Jangankan bertelur, kawin saja tidak. Saya sering memperhatikan tingkah mereka, namun sepertinya mereka masih malu-malu, dan jangkrik saya banyak yang mati tanpa sebab.

Untuk kasus ini, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa: mengawinkan jangkrik liar itu harus lebih jeli. Ibarat manusia, jika orang dari Indonesia bertemu dengan orang dari Arab, belum tentu mereka bisa berkomunikasi. Begitu juga dengan jangkrik, sebelum mereka kawin, mereka akan menawarkan diri apakah lawan mereka siap untuk kawin. Jadi, jenis jangkrik harus sama agar bisa berkomunikasi.

Setelah gagal mengawinkan jangkrik unggul, saya coba kawinkan jangkrik hasil ternak. Beberapa jangkrik dewasa yang sudah siap kawin saya masukkan kedalam box khusus. Masih dengan teknik yang sama, jangkrik betina jumlahnya lebih banyak dari jangkrik jantan. Saya lihat perkembanagan sampai beberapa hari kedepan.

Untuk media, saya pakai media pasir putih. Sebenarnya pasir putih kurang cocok untuk telur jangkrik, karena warna pasir dengan telur hampir sama, jadi agak susah memisahkan mereka. Yang bagus itu pakai pasir hitam/pasir beton. Jenis pasir ini mudah ditemui pada area pegunungan. Bahkan, pasir hitam lebih kuat untuk bangunan daripada pasir putih, itu menurut pengakuan teman saya yang pernah mencoba.

Akhirnya, satu minggu kemudian, telur jangkrik mulai terlihat didalam pasir. Tapi saya juga melihat banyak indukan jangkrik yang telentang diatasnya. Mereka mati sesaat setelah mengeluarkan telurnya. Ironisnya, saya juga melihat ada salah satu jangkrik tewas sebelum semua telur keluar, dan ekor panjang yang dipakai untuk mengeluarkan telur masih menancap didalam pasir.

Entah ini memang sudah menjadi hukum alam bahwa jangkrik akan mati setelah meninggalkan tunas baru, atau ada kesalahan soal pakan. Saya masih terus menyelidikinya untuk jangka panjang.

Untuk kali ini, saya tidak lagi menggunakan daun ubi, karena stoknya terbatas, saya hanya pakai daun dan batang bayeman (jw), bukan daun bayam yang bisa dimakan oleh manusia.

Selain bayeman, saya juga menambahkan batang tebu yang sudah saya cincang menjadi kecil-kecil. Sebenarnya tanpa dicincang, jangkrik masih kuat untuk menggigit batang tebu yang keras itu. Tapi lagi-lagi karena faktor stok yang terbatas, jadi satu batang saya potong per(ros) dan saya berikan secara berkala. Tujuan tebu dicincang agar jumlah sedikit bisa merata satu kandang.

Mengapa saya menggunakan tebu, karena saya pernah menonton video salah satu pembudidaya jangkrik tersukses juga menggunakan tebu untuk indukan jangkrik. Selain tebu, pohon pepaya juga bagus untuk indukan jangkrik. Ingat ya, batang pohon pepaya, bukan daun pepaya. Karena saya pernah mencoba daun pepaya, namun sampai sehari semalam tidak berkurang sedikitpun, mungkin karena rasanya yang pahit sehingga jangkrik juga gak doyan.

Telur jangkrik yang baru keluar, bentuknya masih basah dan memanjang. Meskipun bulat-bulat, tapi pada tahap-tahap awal masih dibungkus oleh kulit yang saya sendiri kurang paham namanya. Yang pasti, telurnya terbungkus menjadi satu dan basah. Sehingga, pasir akan lengket ditelur jangkrik yang baru keluar tersebut.

Meskipun saya sudah sampai pada tahap mendapatkan telur jangkrik, tapi saya mendapat masalah baru. Telur-telur tersebut tidak kunjung menetas. Saya sudah menunggu sampai beberapa hari namun telurnya tidak menetas juga.

Untuk agan-agan yang pernah atau mungkin sampai saat ini masih membudidayakan jangkrik, boleh dong berbagi ilmunya terima kasih..
URL

Komentar yang bermanfaat mendapat Rating*****oleh Admin blog ini